logo blog
mitra id medis
Selamat Datang Di ID Medis-Website Kesehatan
Terima kasih, kami sangat senang atas kunjungan Anda,
semoga artikel kami bisa memberikan jawaban terhadap apa yang anda butuhkan
Jika anda hobi menulis dan memiliki kemampuan lebih tentang kesehatan, Ayo Gabung bersama kami, Kirim artikel kesehatan mu melalui menu kirim artikel
Mari berbuat sesuatu yang berguna untuk orang banyak.

Makalah Gangguan Disosiatif: Gangguan Identitas, Amnesia Psikogenik, dan Fugue Disosiatif

Makalah Gangguan Disosiatif lengkap, Merupakan Makalah kesehatan tentang gangguan disosiatif yang dirangkum dalam beberapa BAB, pada Bab 1 tentang pendahuluan dan latar belakang masalah, termasuk penjelasan tentang pengertian disosiatif.

kemudian dilanjutkan pembahasan dalam BAB II dimana lebih fokus membahas tentang jenis-jenis Gangguan disosiatif,  Termasuk didalamnya yaitu : Gangguan Identitas Disosiatif yaitu seseorang yang memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda atau lebih dikenal dengan Kepribadian Ganda. selain itu jenis yang lain seperti Amnesia Psikogenik atau Amnesia disosiatif dipercaya sebagai tipe yang paling umum, dan fugue Disosiatif baru kemudian dilanjutkan dengan Gangguan depersonalisasi. baiklah langsung saja ini dia makalah selengkapnya.
Makalah Gangguan Disosiatif: Gangguan Identitas, Amnesia Psikogenik, dan Fugue Disosiatif

Makalah Gangguan Disosiatif

BAB I
PENDAHULUAN

Gangguan disosiatif adalah sekelompok gangguan yang ditandai oleh suatu kekacauan atau disosiasi dari fungsi identitas, ingatan, atau kesadaran. Gangguan disosiatif merupakan suatu mekanisme pertahanan alam bawah sadar yang membantu seseorang melindungi aspek emosional dirinya dari mengenali dampak utuh beberapa peristiwa traumatik atau peristiwa yang menakutkan dengan membiarkan pikirannya melupakan atau menjauhkan dirinya dari situasi atau memori yang menyakitkan. 

Disosiasi dapat terjadi baik selama maupun setelah suatu peristiwa. Seperti pada mekanisme koping atau mekanisme perlindungan lainnya, disosiasi menjadi lebih mudah jika dilakukan berulang-ulang. Gangguan identitas disosiatif biasanya disebut sebagai kepribadian ganda. (Videbeck, 2001)

Gangguan Disosiatif memiliki gambaran esensial berupa gangguan pada fungsi yang biasanya terintegrasi mencakup kesadaran, memori, identitas, atau persepsi lingkungan. Hal ini sering menghambat kemampuan individu untuk melakukan fungsi dalam kehidupan sehari-hari , mengganggu hubungan, dan menghambat kemampuan individu untuk melakukan koping terhadap realitas peristiwa yang traumatik. Identitas gangguan ini sangat bervariasi pada individu yang berbeda dan dapat muncul tiba-tiba atau bertahap, bersifat sementara atau kronis (Videbeck, 2001)

Gejala utama disosiatif adalah adanya kehilangan (sebagian atau seluruh) dari integrasi normal di bawah kendali kesadaran antara :
  • Ingatan masa lalu
  • Kesadaran identitas dan pengindraan segera (awareness of identity and immediate sensation) dan,
  • Kontrol terhadap gerakan tubuh

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Jenis-jenis Gangguan Disosiatif

1. Gangguan Identitas Disosiatif

Gangguan Identitas Disosiatif Merupakan Suatu gangguan disosiatif dimana seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda atau kepribadian pengganti (alter). Terdapat beberapa variasi dari kepribadian ganda, seperti kepribadian tuan rumah atau utama mungkin tidak sadar akan identitas lainnya, sementara kepribadian lainnya sadar akan keberadaan si tuan rumah ada juga kepribadian yang berbeda benar-benar tidak sadar satu sama lain. Terkadang dua kepribadian bersaing untuk mendapatkan kontrol terhadap orang tersebut ada juga satu kepribadian dominan (Dorahy, 2001). Ada juga yang menyebutnya dengan gangguan kepribadian multipel

Seseorang memperlihatkan dua atau lebih identitas yang berbeda yang sering kali mengendalikan perilakunya. Gangguan ini disertai dengan ketidakmampuan untuk mengingat informasi personal yang penting (Videbeck, 2001)

Orang dengan kepribadian ganda seringkali sangat imajinatif pada masa kecilnya karena terbiasa dengan permainan “make-believe” (pura-pura atau bermain peran) mereka mungkin sudah mengadopsi identitas pengganti, terutama bila mereka belajar bagaimana menampilkan peran kepribadian ganda. Dalam kasus kepribadain ganda masih terdapat kontroversi, karena selama tahun 1920-1970 dilaporkan hanya sedikit kasus di seluruh dunia tentang kepribadian ganda. Sejumlah ahli percaya bahwa gangguan tersebut terlalu cepat didiagnosis pada orang-orang yang sangat mudah tersugesti yang bisa saja hanya mengikuti sugesti bahwa mereka mungkin memiliki gangguan tersebut (APA, 2000). 

Sejumlah pakar terkenal, seperti Psikolog Nicholas Spanos dan para psikolog lainnya telah menentang keberadaan gangguan identitas disosiatif. Bagi Spanos, kepribadian ganda bukanlah suatu gangguan tersendiri, namun suatu bentuk bermain peran dimana individu pertama-tama mulai menganggap diri mereka memiliki self ganda dan kemudian mulai bertindak dengan cara yang konsisten dengan konsepsi mereka mengenai gangguan tersebut. Pada akhirnya permainan peran mereka tertanam sangat dalam sehingga menjadi kenyataan bagi mereka.

Kepribadian ganda berbeda dengan skizofrenia. Dalam kepribadian ganda kepribadiannya seperti terbagi kedalam dua atau lebih kepribadian namun masing-masing biasanya menunjukkan fungsi yang lebih terintegrasi pada tingkat kognitif, afektif dan perilaku. Sedangkan skizofrenia adalah kelainan mental yang ditandai oleh gangguan proses berpikir dan respon emosi yang lemah. Keadaan ini pada umumnya dimanifestasikan dalam bentuk halusinasi pendengaran, paranoid atau waham yang ganjil, atau cara berbicara dan berpikir yang kacau, dan disertai dengan disfungsi sosial dan pekerjaan yang signifikan (Dorahy, 2001).

Identitas disosiatif merupakan kemunculan dua atau lebih kepribadian yang berbeda. Kejelasan atau ketidakjelasan dari kepribadian ini bagaimanapun bervariasi dari fungsi motivasi psikologis, level stress sekarang, budaya, konflik internal dan dinamic, serta naik turunnya emosi. Penekanan periode-periode dari gangguan identitas mungkin terjadi ketika tekanan psikososial parah dan/atau berkepanjangan. 

Dalam beberapa kasus “possession-form” dari gangguan identitas disosiatif,  dan dalam proporsi kasus “non-possession-form” yang kecil, perwujudan dari identitas alter akan sangat jelas. Kebanyakan individu dengan gangguan identitas disosiatif “non-possession-form”, tidak sejara jelas menunjukkan ketidaksinambungan  identitas diri dalam periode waktu yang lama; hanya sedikit bagian menujukkan pada perhatian klinis dengan identitas alternatif yang terobservasi (Dorahy, 2001).

Gejala-gejala yang berhubungan dengan diskontinuitas pengalaman yang dapat berpengaruh pada berbagai aspek fungsi individu.  Individu dengan gangguan identitas disosiatif dapat menunjukkan perasaan yang tiba-tiba menjadi pengamat yang didepersonalisasi dari perkataan dan tindakan mereka, dimana mereka merasa tidak berdaya untuk menghentikannya (sense of self). Beberapa individu juga menunjukkan persepsi suara (contoh : suara anak; tangisan ; dan suara roh). 

Pada beberapa kasus, suara-suara tersebut terasa banyak, membingungkan, pikiran bebas mengalir melalui individu yang tidak terkontrol. Emosi yang kuat, impuls, dan perkataan atau tindakan lain tiba-tiba muncul tanpa rasa kepemilikan diri atau tanpa kontrol. Emosi-emosi dan impuls ini seringkali ditunjukkan sebagai ego yang tidak kuat dan membingungkan. Sikap, penampilan dan kesukaan pribadi (makanan, aktivitas, pakaian) dapat berubah secara tiba-tiba dan berubah lagi. Individu juga merasa tubuhnya berbeda (seperti tubuh anak-anak, jenis kelampin berbeda, besar dan berotot). 

Perubahan dalam perasan diri sendiri dan kehilangan agen personal dapat diikuti rasa bahwa sikap, emosi, dan perilaku – dalam satu tubuh – bukan milik sendiri dan bukan dalam kontrol diri. Kebanyakan dari diskontinuitas yang tiba-tiba dalam berbicara, pengaruh, dan perilaku dapat diamati oleh keluarga, teman, dan terapis. Serangan non-epilepsi dan gejala konversi lainnya menonjol dalam beberapa penjelasan dari identitas disosiatif, khususnya dalam setting non-Barat (Hibbert, dkk. 2009).

Individu yang memiliki gangguan identitas disosiatif berbeda dalam kesadaran diri dan sikap terhadap amnesia. Hal ini umum pada individu tersebut untuk memperkecil gejala amnesia mereka. Beberapa perilaku amnesia dapat menjadi nyata pada lainnya – seperti ketika orang-orang tidak mengingat kembali sesuatu yang mereka sadari dalam berbuat atau berkata, ketika mereka tidak bisa mengingat nama mereka, atau ketika mereka tidak mengenal pasangan, anak, atau teman dekatnya (Tomb, 2004)

Identitas “possession-form” dalam identitas disosiatif nyata sebagai perilaku yang muncul seperti ada “spirit”, kekuatan supernatural, atau ada orang lain di luar yang mengontrol. Contohnya, perilaku individu dapat memunculkan bahwa identitas mereka telah digantikan dengan “hantu” dari perempuan yang bunuh diri dalam komunitas mereka beberapa tahun yang lalu, berbicara dan berperilaku seakan-akan perempuan itu masih hidup. Atau, individu diambil alih oleh iblis, sebagai tuntutan dari individu untuk mendapatkan hukuman atas perilaku yang telah dia lakukan di masa lalu. 

Bagaimanapun, bagian utama dari keadaan kepemilikan di dunia ini normal, biasanya bagian dari spiritual dan tidak termasuk dalam gangguan identitas disosiatif. Identitas yang meningkat selama gangguan disosiatif disorder “possession-form” muncul berulang tidak diinginkan dan terpaksa yang menyebabkan distress atau kerusakan klinis yang signifikasn dan tidak dapat diterima oleh budaya atau agama secara luas (Dorahy, 2001).

2. Amnesia disosiatif atau Amnesia Psikogenik

Amnesia disosiatif dipercaya sebagai tipe yang paling umum dari gangguan disosiatif. Kehilangan memori karena penyebab psikologik disebut amnesia disosiatif. Amnesia diambil dari kata Yunani a-, berarti “tanpa” dan mnasthai, berarti “untuk mengingat”. Mengingat kembali dalam amnesia psikogenik dapat terjadi secara bertahap tapi sering muncul secara tiba-tiba atau spontan (Maldonado, Butler, dan Speigel, 1998). 

Biasanya, terdapat kehilangan informasi bermuatan emosi yang anterograd secara tiba-tiba setelah suatu stres fisik atau psikososial. Gangguan ini lebih banyak dijumpai oada wanita usia remaja atau usia 20-1n, atau laki-alki pada waktu perang. Pada saat serangan, pasien tampak sangat bingung, tetapi dapat pulih secara cepat, spontan, dan menyeluruh. Pada sebagian kasus, amnesia terjadi sebagian atau menyeluruh, dialami selama beberapa bulan atau tahun pada saat-saat akhir hidup mereka. Hipnosis dapat membantu untuk mengembalikan memorinya (Tomb, 2004).

Terdapat jenis-jenis dalam kerusakan ingatan yang diantaranya ialah ketidak mampuan untuk mengingat semua insiden yang berhubungan dengan suatu kejadian traumatik untuk suatu periode waktu spesifik setelah kejadian tersebut (biasanya beberapa jam sampai beberapa hari) yang disebut dengan Amnesia lokal (Townsend, 1998). Sedangkan amnesia selektif, biasanya Beberapa individu dapat mengingat beberapa, namun tidak semua, peristiwa-peristiwa dalam periode waktu terbatas. 

Jadi, individu dapat mengingat bagian dari peristiwa traumatik yang pernah terjadi, tetapi tidak pada bagian lain. Beberapa individu melaporkan, dirinya menderita baik amnesia terlokalisasi dan amnesia selektif. Dengan kata lain yang dapat diingat hanyalah kejadian pasti yang berhubungan dengan kejadian traumatik (Townsend, 1998).

Berbeda dengan amnesia selektif dan amnesia lokal, Amnesia menyeluruh  penghilangan memori keseluruhan dari sejarah kehidupan seseorang, dan hal tersebut jarang. Individu dengan amnesia keseluruhan dapat melupakan identitas pribadi. Beberapa kehilangan pengetahuan sebelumnya tentang dunia (pengetahuan semantik) dan tidak dapat melakukan keahlian-keahlian yang telah dipelajari (pengetahuan prosedural). 

Amnesia menyeluruh mempunyai onset akut; membingungkan, disorientasi, dan pengeluyuran yang tidak bertujuan dari individu dengan amnesia menyeluruh biasanya membawa mereka pada perhatian polisi atau pelayan psikiater darurat. Amnesia menyeluruh dapat menjadi lebih umum di antara korban kekerasan seksual dan individu yang memiliki pengalaman stress emosional yang ekstrim atau konflik (Townsend, 1998).

Dan yang terakhir ialah amnesia kontinu yakni ketidakmampuan mengingat kejadian-kejadian berikutnya sampai suatu waktu yang spesifik dan termasuk kejadian-kejadian saat ini. Memorinya tidak kembali setelah suatu periode waktu yang pendek, seperti pada amnesia lokal. Individu tersebut benar-benar tidak mampu membentuk memori baru (Townsend, 1998).

Individu dengan amnesia disosiatif seringkali tidak menyadari (atau hanya sebagian sadar) permasalahan memori mereka. Kebanyakan, terkhusus mereka yang mengalami amnesia terlokalisasi, meminimalisir kepentingan dari kehilangan memori mereka dan dapat menjadi tidak nyaman ketika diarahkan untuk mengingat memori tersebut. 

Dalam amnesia tersistematis, individu kehilangan memori untuk kategori informasi yang spesifik (semua ingatan tentang keluarga, orang penting, pelecehan seksual masa kecil). Dalam amnesia berkesinambungan, individu melupakan tiap peristiwa yang terjadi (Townsend, 1998).

3. Fugue disosiatif atau Fuga Psikogenik

Pengertian gangguan fugue disosiatif atau fuga Psikogenik yaitu Fugue berasal dari bahasa latin fugere, yang berarti melarikan diri, fugue sama dengan amnesia ”dalam pelarian”. Dalam fugue disosiatif memori yang hilang lebih luas dari pada amnesia dissosiative, individu tidak hanya kehilangan seluruh ingatanya (misalnya nama, keluarga atau pekerjaanya), mereka secara mendadak meninggalkan rumah dan pekerjaanya serta memiliki identitas yang baru (parsial atau total) (APA, 1994). Namun mereka mampu membentuk hubungan sosial yang baik dengan lingkungan yang baru. 

Fugue, seperti amnesia, relatif jarang dan diyakini mempengaruhi sekitar 2 orang di 1.000 di antara populasi umum (APA, 1994). Setelah pulih, tidak ada ingatan sama sekali terhadap kejadian-kejadian yang terjadi selama fuga (fugue). Prosesnya secara singkat-beberapa jam sampai beberapa hari dan jarang sampai beberapa bulan. Kekambuhan jarang terjadi (Townsend, 1998). 

Gangguan ini muncul sesudah individu mengalami stress atau konflik yang berat, misalnya pertengkaran rumah tangga, mengalami penolakan, kesulitan dalam pekerjaan dan keuangan, perang atau bencana alam. Perilaku seseorang pasien dengan fugue disosiatif adalah lebih bertujuan dan terintegrasi dengan amnesianya dibandingkan pasien dengan amnesia disosiatif

Pasien dengan fugue disosiatif telah berjalan jalan secara fisik dari rumah dan situasi kerjanya dan tidak dapat mengingat aspek penting identitas mereka sebelumnya (nama,keluarga, pekerjaan). Pasien tersebut seringkali, tetapi tidak selalu, mengambil identitas dan pekerjaan yang sepenuhnya baru, walaupun identitas baru biasanya kurang lengkap dibandingkan kepribadian ganda yang terlihat pada gangguan identitas disosiatif (Tomb, 2004)

Penyebab dissociative fugue serupa kepada dissociative amnesia. Dissociative fugue sering disalaharti sebagai malingering, karena kedua kondisi bisa terjadi dibawah keadaan bahwa seseorang mungkin tidak bisa memahami keinginan untuk menghindar. 

Kebanyakan fugue tampak melambangkan pemenuhan keinginan yang disembunyikan (misal, lari dari tekanan yang berlebihan, seperti perceraian atau kegagalan keuangan). Fugues lainnya berhubungan dengan perasaan ditolak atau dipisahkan atau mereka bisa melindungi orang tersebut dari bunuh diri atau impul pembunuhan. 

Ketika dissociative fugue berulang labih dari beberapa waktu, orang tersebut biasanya memiliki gangguan identitas dissociative yang mendasari. Fugue bisa berlangsung dari hitungan jam sampai mingguan, atau kadangkala bahkan lebih lama (Tomb, 2004)

4. Gangguan Depersonalisasi

Karena sudah terlalu panjang dan tidak muat lagi di halaman ini maka, kelanjutan Makalah Gangguan Disosiatif akan dilanjutkan kehalaman selanjutnya, Silahkan Lihat pembahasan nya melalui Tautan Berikut ini : Gangguan Depersonalisasi . Disana akan di bahas lebih lanjut mengenai  jenis gangguan depersonalisasi dan beberapa jenis gangguan lainnya beserta cara penangan gangguan disosiatif. Daftar pustaka serta beberapa sumber kutipan atau referensi dari pembuatan makalah kesehatan gangguan disosiatif ini juga ada di akhir pembahasan selanjutnya. Terima kasih dan semoga bermanfaat untuk semuanya.


Masukkan Email anda untuk mendapatkan update terbaru ID Medis.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2015. ID Medis - Website Kesehatan - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger