logo blog
mitra id medis
Selamat Datang Di ID Medis-Website Kesehatan
Terima kasih, kami sangat senang atas kunjungan Anda,
semoga artikel kami bisa memberikan jawaban terhadap apa yang anda butuhkan
Jika anda hobi menulis dan memiliki kemampuan lebih tentang kesehatan, Ayo Gabung bersama kami, Kirim artikel kesehatan mu melalui menu kirim artikel
Mari berbuat sesuatu yang berguna untuk orang banyak.

Gangguan Depersonalisasi, Pengertian, Gejala, Dan Cara Penanganannya

Gangguan Depersonalisasi didiagnosis hanya terjadi bila pengalaman terjadi berulangkali dan menimbulkan distress yang jelas. Ini merupakan lanjutan pembahasan makalah kesehatan sebelumnya yang berjudul Makalah Gangguan Disosiatif atau Gangguan Identitas Diri Seseorang. pada pembahasan yang telah lalu kita sudah membahas BAB 1 dan Bab II. Gangguan Depersonalisasi merupakan salah satu jenis dari Gangguan Disosiatif lainnya, selain gangguan identitas, Amnesia Psikogenik dan Fugue Disosiatif dan Artikel ini merupakan lanjutan pembahasan Bab II pada makalah tersebut.
Gangguan Depersonalisasi, Pengertian, Gejala, Dan Cara Penanganannya

4. Gangguan Depersonalisasi

Ada dua macam gangguan depersonalisasi, diantaranya ialah:

A. Depersonalisasi (depersonalization) 

Depersonalization mencangkup kehilangan atau perubahan temporer dalam perasaan yang biasa mengenai realitas diri sendiri. Dalam suatu tahap depersonalisasi, orang merasa terpisah dari dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Mereka mungkin merasa seperti sedang bermimpi atau bertingkah laku seperti robot (Guralnik, Schmeidler, & Simeon, 2000; Maldonado, Butler, & Speigel, 1998).

B. Derealisasi (Derealization) 

Derealization merupakan suatu perasaan tidak nyata mengenai dunia luar yang mencakup perubahan yang aneh dalam persepsi mengenai lingkungan sekitar, atau dalam perasaan mengenai periode waktu juga dapat muncul. Orang dan objek dapat berubah ukuran atau bentuk dan dapat pula mengeluarkan suara yang berbeda. Semua perasaan ini dapat diasosiasikan dengan kecemasan, termasuk pusing dan ketakutan akan menjadi gila, atau dengan depresi (Guralnik, Schmeidler, & Simeon, 2000; Maldonado, Butler, & Speigel, 1998).

Hal utama/penting dari gangguan depersonalisasi atau derealisasi adalah episode menetap atau berulang dari depersonalisasi/derealisasi, atau keduanya. Episode dari depersonalisasi dikaraktersitikan dari perasaan yang tidak nyata atau tidak familiar dari keseluruhan diri seseorang atau dari aspek-aspek diri. Individu tersebut dapat merasa terpisah  dari dirinya (“saya bukan siapa-siapa”, “saya tidak mempunyai diri saya”). 

Dia juga merasa terpisah secara subjektif dari aspek diri, termasuk perasaan (“ saya tahu saya mempunyai perasaan, tapi saya tidak merasakannya”), pikiran (“pikiran saya tidak terasa seperti milik saya”, keseluruhan tubuh/bagian tubuh, atau sensasi (sentuhan, lapar, libido). Ada juga pengurangan rasa memiliki dari agen diri (terasa seperti robot, kurang dalam kontrol perkataan atau gerakan). Pengalaman depersonalisasi terkadang menjadi satu dalam pemisahan diri, dengan satu bagian mengamati dan bagian lain berpartisipasi (“out-of-body experience” adalah bentuk paling ekstrim). 

Kesatuan gejala dari “depersonalisasi” terdiri dari beberapa faktor gejala: pengalaman diri menyimpang dari biasanya (diri yang tidak nyata dan perubahan persepsi); emosi atau merasa mati rasa secara fisik; dan distorsi diri yang temporal dengan mengingat kembali penyimpangan diri (Guralnik, Schmeidler, & Simeon, 2000).

Episode Derealisasi dikarakteristikan oleh perasaan tidak nyata atau memisahkan dari atau tidak familiar dengan, dunia (individu, benda mati, dan sekitarnya). Individu tersebut dapat merasa bahwa dia dalam kabut, mimpi, atau gelembung, atau pengalaman buatan, tidak berwarna, atau tidak hidup.

Derealisasi secara umum diikuti dengan distorsi visual subjektif, seperti kekaburan, merasa lingkungan sekitar makin sempit/makin luas, dua-dimensi/rata, melebih-lebihkan tiga dimensi, atau perubahan jarak/ukuran dari objek. Distorsi auditori dapat terjadi, dimana suara mengecil atau mengeras (Guralnik, Schmeidler, & Simeon, 2000).

B. Gangguan Disosiatif Lainnya

1. Stupor Disosiatif.

Stupor, sangat berkurangnya atau hilangnya gerakan-gerakan volunter dan respon normal terhadap rangsangan luar seperti misalnya cahaya, suara, dan perabaan (sedangkan kesadaran tidak hilang). Tidak ditemukan adanya gangguan fisik ataupun gangguan jiwa lain yang dapat menjelaskan keadaan stupor tersebut. Kondisinya tidak bergerak dan bisu, namun ia sadar akan kondisi sekelilingnya (Hibbert, dkk. 2009)

2. Gangguan Trans dan Kesurupan

Gangguan ini menunjukan adanya kehilangan sementara aspek penghayatan akan identitas diri dan kesadaran akan lingkungannya. Dalam beberapa kejadian, individu tersebut berperilaku seakan-akan dikuasai oleh kepribadian lain, kekuatan gaib, malaikat atau “kekuatan lain”. 

hanya gangguan trans yang “involunter” (diluar kemampuan individu) dan bukan merupakan aktivitas yang biasa dan bukan merupakan kegiatan keagamaan ataupun budaya, yang boleh dimasukan dalam pengertian ini. Tidak ada penyebab organik misalya epilepsi, cidera kepala, dan lain-lain, dan bukan bagian gangguan jiwa tertentu (Hibbert, dkk. 2009).

3. Gangguan Motorik Disosiatif

Bentuk yang umum dari gangguan ini adalah ketidakmampuan menggerakan seluruh atau sebagian dari anggota gerak (tangan atau kaki). Gejala tersebut seringkali menggambarkan konsep dari penderita mengenai gangguan fisik yang berbeda dengan prinsip fisiologik dan anatomik (Hibbert, dkk. 2009).

4. Konvulsi Disosiatif

Konvulsi disosiatif (pseudo seizures) dapat sangat mirip dengan kejang, epileptik dalam hal gerakan gerakannya, akan tetapi sangat jarang disertai lidah tergigit, luka serius karena jatuh saat serangan dan mengompol juga tidak dijumpai kehilangan kesadaran atau hal tersebut diganti dengan keadaan seperti stupor atau trans (Leksikon, 2001)

5. Anestesia dan Kehilangan sensorik disosiatif 

Gejala anestesia pada kulit seringkali mempunyai batas-batas yang tegas (menggambarkan pemikiran pasien mengenai kondisi tubuhnya dan bukan menggambarkan kondisi klinis sebenarnya). Dapat pula terjadi perbedaan antara hilangnya perasaan pada berbagai jenis modalitas penginderaan yang tidak mungkin desebabkan oleh kerusakan neurologis, misalnya hilangnya perasaan dapat disertai dengan keluhan parestesia. 

Kehilangan penglihatan jarang bersifat total, lebih banyak berupa gangguan ketajaman penglihatan, kekaburan atau “tunnel vision”. Meskipun ada gangguan penglihatan, mobilitas penderita dan kemampuan motoriknya masih baik. Tuli disosiatif dan anosmia jauh lebih jarang terjadi dibandingkan dengan hilang rasa dan penglihatan (Hibbert, dkk. 2009).

6. Gangguan Disosiatif (konversi) atau Dissociative (convertion) disorder

Kehilangan integrasi normal (sebagian atau seluruhnya) antara ingatan masa lalu, kesadaran akan identitas diri, sensasi segera, dan pengendalian gerakan tubuh. Gangguan disosiatif memiliki kecenderungan untuk pulih setelah beberapa minggu atau bulan, terutama jika kejadiannya berhubungan dengan peristiwa traumatik dalam kehidupan. Makin banyak gangguan kronik yang dapat terjadi, terutama kelumpuhan (paralyse) dan anestesia (anaesthesias).

Jika kejadiannya berhubungan dengan masalah yang tidak dapat diselesaikan atau mengalami kesulitan dalam hubungan interpersonal. Gangguan ini pada awalnya dianggap bersifat psikogenik dan dahulu diklasifikasikan ke dalam histeria konversi. Gejala sering kali merepresentasikan konsep pasian tentang bagaimana penyakit fisik akan dimanifestasikan. Pemeriksaan medis dan penunjang biasanya tidak membuktikan adanya gangguan fisik atau gangguan neurologik apapun (Leksikon, 2001).

7. Gangguan disosiatif organik (Dissociative disorder, organic)

Gangguan disosiatif yang timbul sebagai akibat gangguan jiwa organik dan ditandai dengan kehilangan integritas normal sebagian atau total antara ingatan masa lalu, kesadaran akan identitas, sensasi segera, dan pengendalian gerakan tubuh (Leksikon, 2001).

Itulah Beberapa jenis gangguan disosiatif lainnya selain gangguan identitas disosiati, Amnesia Psikogenik,  Fugue Disosiatif dan gangguan depersonalisasi. Sekarang kita lanjutkan ke pandangan teoritis terhadap pembahasan di atas dan termasuk pembahasan yang telah lalu dalam Makalah Gangguan Disosiatif.

C. Pandangan-pandangan Teoritis

Gangguan disosiatif adalah fenomena yang sangat mengagumkan dan menarik namun membingungkan. Meski gangguan-gangguan ini tetap misterius dalam beberapa hal, petunjuk-petunjuk yang memberikan pemahaman akan asal-muasalnya tetap bermunculan.

1. Pandangan Psikodinamika

Amnesia disosiatif dapat menjadi suatu fungsi adaptif dengan cara memutus atau mendisosiasi alam sadar seseorang dari kesadaran akan pengalaman traumatis atau sumber-sumber lain dari nyeri maupun konflik psikologis (Dorahy, 2001). Bagi teoritikus psikodinamika, gangguan disosiatif melibatkan penggunaan represi secara besar-besaran, yang menghasilkan “terpisahnya” impuls yang tidak dapat diterima dan ingatan yang menyakitkan dari kesadaran seseorang. 

Dalam amnesia dan fugue disosiatif, ego melindungi dirinya sendiri dari kebanjiran kecemasan dengan mengeluarkan ingatan-ingatan yang mengganggu atau dengan mendisosiasi impuls menakutkan yang bersifat seksual atau agresif. Pada kepribadian ganda, orang mungkin mengekspresikan impuls-impuls yang tidak dapat diterima melalui pengembangan kepribadian pengganti. Pada depersonalisasi orang berada di luar dirinya sendiri, aman dengan cara menjauh dari pertarungan emosional di dalam dirinya (Dorahy, 2001).

2. Pandangan Kognitif dan Belajar 

Teoritikus belajar dan kognitif memandang disosiasi sebagai suatu respon yang dipelajari yang meliputi proses tidak berpikir tentang tindakan atau pikiran yang mengganggu dalam rangka menghindari rasa bersalah dan malu yang ditimbulkan oleh pengalaman-pengalaman itu. Kebiasaan tidak berpikir tentang masalah-masalah tersebut secara negatif dikuatkan dengan adanya perasaan terbebas dari kecemasan, atau dengan memindahkan perasaan bersalah atau malu. 

Sejumlah teoretikus sosial kognitif, percaya bahwa gangguan identitas disosiatif adalah suatu bentuk bermain peran yang dikuasai melalui observasi yang melibatkan proses pembelajaran dan reinforcement. Ini tidak dengan berpura-pura atau malingering, orang dapat secara jujur mengorganisasikan pola perilaku mereka menurut peran tertentu yang telah mereka amati. Mereka juga dapat menjadi sangat mendalami permainan peran mereka hingga ‘lupa’ bahwa mereka sedang menampilkan sebuah peran (Butcher, dkk, 2008).

3. Disfungsi Otak 

Beberapa bukti terakhir menunjukkan perbedaan dalam aktivitas metabolisme otak antara orang dengan gangguan depersonalisasi dan subjek yang sehat. Ada penemuan yang menekankan pada kemungkinan adanya  disfungsi di bagian otak yang terlibat dalam persepsi tubuh, dapat membantu menjelaskan perasaan terpisah dari tubuh yang diasosiasikan dengan depersonalisasi (APA, 1994).

4. Model Diatesis-Stres

Walaupun banyak bukti trauma masa kanak-kanak dalam kasus gangguan identitas disosiatif, hanya sedikit anak yang mengalami penyiksaan yang mengembangkan kepribadian ganda. Trait-trait kepribadian tertentu, seperti kecenderungan berfantasi, tingkat kemudahan tinggi untuk dihipnotis dan keterbukaan pada kondisi kesadaran alter, dapat menjadi predisposisi bagi individu untuk mengembangkan pengalaman disosiatif bila dihadapkan dengan stress yang ekstrim, seperti penyiksaan yang traumatis. 

Walaupun demikian, trait-trait tersebut belum tentu mengakibatkan seseorang mengalami gangguan disosiatif. Orang yang memiliki kecenderungan rendah untuk berfantasi atau kemudahan dihipnotis kemungkinan mengalami semacam karakteristik pikiran-pikiran cemas dan intrusif yang merupakan gangguan stress pasca trauma (PTSD) pada periode setelah stress yang traumatis dan bukan gangguan disosiatif (Guralnik, dkk, 2000).

D. Penanganan Gangguan Disosiatif 

Untuk Penanganan Gangguan Disosiatif termasuk:
1. Identitas Disosiatif
2. Penanganan Fugue Disosiatif
3. Penanganan Amnesia Disosiatif
4. Penanganan Depersonalisasi
5. Penanganan gangguan disosiatif yang lainnya

Semua akan di bahas pada postingan selanjutnya.. karena sudah terlalu panjang dan tidak muat lagi untuk di publis di satu halaman postingan diatas yang berjudul Gangguan Depersonalisasi, Pengertian, Gejala, Dan Cara Penanganannya. Kelanjutannya bisa anda simak di tautan berikut ini: Penanganan Gangguan Disosiatif .


Masukkan Email anda untuk mendapatkan update terbaru ID Medis.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2015. ID Medis - Website Kesehatan - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger